pariwisata kabupaten pasuruan

Banyak Oknum Minta Jatah Pengamanan

  Dibaca : 774 kali
Banyak Oknum Minta Jatah Pengamanan
petugas satpol pp saat merasia PSK tretes beberapa waktu lalu
space ads post kiri

Keberadaan esek-esek Tretes (Prigen), Kabupaten Pasuruan tidak jauh beda dengan geliat esek-esek Doly, Surabaya. Keterikatan antara pebisnis esek-esek (wanita penghibur alias PSK) dengan masyarakat sekitar sama-sama tidak bisa terpisahkan. Perekonomian di lokalisasi ini adalah rantai kehidupan. Mati satu seakan mati semuanya. Siapa saja hidup dari keberadaan para penjaja seks (PSK). Dunia esek-esek Tretes pernah terhenti pasca aksi penutupan yang dilakukan kelompok masyarakat yang tergabung dengan Ponpes Metal dari Kecamatan Rejoso yang dipimpin Ustad Abu Bakar. Tapi seiring berjalannya waktu, dunia hiburan kaum laki-laki ini kembali bangkit….

* Geliat Bisnis Prostitusi Tretes (4)

Boleh dibilang sekarang ini esek-esek Tretes terus menuju ke puncak kejayaannya seperti tahun-tahun 1980–1990an. Ini sejalan dengan penutupan lokalisasi Doly, Surabaya.

Hampir rata-rata penghuni Dolly menempati vila-vila yang ada di kawasan Tretes. Lalu kemana Sat Pol PP dan Polres Pasuruan? Itulah yang menjadi pertanyaan. Selama ini Sat Pol PP seakan tutup mata.

Fakta yang terjadi selama ini, operasi atau razia yang digelar oleh Sat Pol PP seakan tebang pilih. Kawasan yang selalu dijadikan langganan operasi adalah Pesanggrahan yang letaknya berada di belakang rumah salah anggota DPRD Kabupaten Pasuruan. Lainnya hamper tidak pernah dirazia.

    Alasan klasik dari petugas Sat Pol PP, para PSK yang terjaring adalah PSK liar yang tidak memiliki induk semang alias Germo alias Mami dan Papi.

“Ini artinya, Sat Pol PP secara tidak langsung melegalkan keberadaan PSK di Tretes. Kalau mau jujur dan mau betul-betul menegakkan Perda, mestinya semua PSK yang ada di Tretes dirazia tanpa tebang pilih,” tegas M. Ridwan, Ketua Korda Reclassiring Indonesia (RI) 007 Pasuruan.

    Kata Ridwan atau yang akrab disapa Ovu ini, di Tretes banyak tersebar PSK yang dibawah umur. Kalau Sat Pol PP tidak bias menindak, mestinya petugas Polres Pasuruan mengambil tindakan. Nyatanya sampai sekarang tidak pernah dilakukan. Kalaupun dilakukan setelah ada kejadian atau peristiwa hukum.

    Masih ungkap Ridwan, indikasi yang muncul esek-esek Tretes dijadikan ajang cari duit bagi oknum-oknum aparat keamanan. Mulai dari tingkatan Polsek sampai oknum Polda Jatim.

Keluhan ini pernah disampaikan oleh kalangan germo alias mami alias papi para PSK. Ada anggaran yang harus dikeluarkan demi amannya tempat mereka berbisnis.

    Yang datang ke para mbok-mbokan PSK, ada yang mengaku oknum Satpol PP, oknum Polsek, oknum polda, oknum LSM hingga oknum wartawan. Sebagian minta uang, sebagian lainnya meminta pelayanan.

Terkadang pesta miras, ada pula yang meminta dilayani gadis-gadis cantik anak mami. “Kalau mau jujur, semua pihak punya tanggung jawab terhadap keberadaan esek-esek Tretes. Apakah dilegalisasi ataukah ditutup. Kalau dibina seperti tahun 1980-an itu akan lebih baik. Tapi akan jauh lebih baik demi kemaslahatan Kabupaten Pasuruan yang dikenal sebagai Kota Santri, ya ditutup saja,” ungkap Ridwan Ovu. (mat/hen/kdr/bersambung) 

KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional